Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 April 2012

Aku hanyalah manusia

 Dear diary,

Orang bilang manusia adalah mahluk yang paling sempurna di dunia ini. Panggil saja aku Farhan, dan mungkin bagi sebagian orang aku sedikit berbeda, tetapi aku tak merasa seperti itu. Aku sama seperti manusia-manusia yang lain yang dimana aku memiliki perasaan, perasaan untuk jatuh cinta serta kasih sayang. Tapi yang membuatku berbeda adalah aku bukanlah penyuka lawan jenis, tapi aku adalah penyuka sesama jenis. Hinaan, celaan serta di kucilkan pernah ku alami semuanya. Sedih rasanya, tapi mau bagaimana lagi, ini adalah hidup. Aku tak dapat berbuat apa-apa, aku terlahir seperti ini yang dimana bagiku ini adalah karunia Tuhan kepada umatnya.

Jatuh cinta, tentu saja aku alami selayaknya orang-orang. Ricky adalah pacar pertama ku, dia berbadan kekar dan tegas. Perkenalanku dengannya di awali ketika malam dimana ulang tahu teman ku, awalnya aku tak mengira jika Ricky sama seperti ku seorang gay. Yup, itulah sebutan orang-orang kepada kami, tapi apakah salah menjadi seorang gay?. Dengan mengalirnya pembicaraan dan akhirnya di ketahuilah bahwa itulah Ricky. Kami pun saling bertukar nomer telepon, jika malam minggu tiba dia mengajakku jalan. Selang beberapa minggu, dia memintaku untuk menjadi kekasihnya, bayangkan, siapa yang tak senang seorang Ricky memintaku untuk menjadi kekasihnya. Alhasil, aku pun menerimanya dengan rasa bahagia di hati. Sama halnya bagaikan pasangan normal, dimana ada pria dan wanita. Karena sifatku yang sedikit kewanitaan, maka aku menjadi sang ‘wanita’ dan dia adalah pria ku. Hubungan kami tak berjalan lama, entah karena dia sudah bosan akan tingkah ku yang selalu manja padanya atau karena dia menginginkan seseorang yang serius dalam suatu hubungan.

Kisahku dengannya berakhir begitu saja, dan aku pun harus menjalani hidup tanpanya. Kembali ke kehidupanku yang sendiri, seorang teman ku mengetahui bahwa aku adalah gay. Sontak, aku mendapat hinaan darinya, “Dasar gay, sampah masyarakat.” Ucapnya dengan nada kasar. Aku pun langsung lari ke kamar mandi, dan ku teteskan air mata karena ku tak kuasa menahan tangis. Yah, beginilah hidupku, selalu saja di cela dan di hina. Apakah mereka tak dapat memahami hidup ini?. Bagaimana rasanya jika mereka menjadi seperti aku ini dan mendapatkan hinaan seperti itu?. Aku tak dapat berbuat apa-apa, aku hanya mengelus dada. Oh hidup, pantaskah aku menyalahkan kehidupan ini?. Kembali lagi ke kisah cinta ku, kini ku bertemu dengan David. Berbeda dengan Ricky, dia kurang lebih memiliki sifat kewanitaan sama dengan ku. Perkenalan kami berlangsung ketika aku pergi ke sebuah night club. Yang aku suka darinya adalah matanya, serta sikapnya yang baik. Kami pun sering meluangkan waktu bersama, dan akhirnya kunyatakan cinta padanya. Hubungan kami mengalir bagaikan air dan dia pun dapat menerima sifatku yang manja ini. Yang aku tahu dia bekerja di sebuah perusahaan rokok, dan aku pun tak berani bertanya lebih details akan pekerjaannnya. Saat hari ulang tahunku dia memberikan sebuah hadiah yang tak dapat ku lupa yaitu candle light dinner, dan selepasnya tak terlupa ku ucapkan terima kasih dan ku peluk dirinya. Setibanya di rumah, aku masih terbayang-bayang akan hal yang baru kulalui, sungguh indah. David sungguh mengerti diriku dan mencintai ku apa adanya. Terkadang aku merenung, mengapa aku terlahir sebagai pria tetapi jiwa ku adalah wanita?. Mungkin itu sudah takdir dari-NYA. David selalu saja membuatku bahagia, terkadang dia memberiku hadiah yang selalu saja tak dapat ku lupa. Setiap hari anniversary kami dia selalu berkata, “Sayang, aku selalu mencintaimu.” Itulah katanya padaku. Mungkin dia tipe yang romantis bagiku, sikapnya yang membuatku bahagia serta kasih sayangnya yang besar bagiku.

Percintaan itu tak selalu mulus, harus ku sadari itu. Saat itu dia marah besar karena aku jalan dengan teman pria ku yang lain, padahal itu hanyalah seorang teman tak lain dan tak lebih. Yah, itulah dimulai kerikil-kerikil dalam percintaan kami. Entah mengapa, dia menjadi pencemburu sekali pada ku, dia lebih over protektif.  Aku tahu, kita harus siap menerima resiko dalam percintaan dan inilah resikonya dimana kita harus siap untuk terluka. Rasa tak nyaman akan sikapnya mulai menghantui ku yang selalu saja terbayang-bayang. Kami pun jarang meluangkan waktu bersama karena hubungan kami tak seperti dulu lagi. Yah, tibalah pada malam itu, malam dimana dia memutuskan ku tanpa alasan yang jelas. Aku pun sangatlah sedih, karena aku menemukan sosok yang aku cari dalam dirinya. Minggu berganti minggu, dan  akhirnya ku tahu siapa David itu sebenarnya. Seorang temanku bercerita bahwa David itu adalah ‘Kucing’, dimana ‘Kucing’ yang di maksud disini adalah sebutan untuk seorang PSK pria. Aku pun kaget setengah mati mendengar katanya di tambah lagi selama ini dia berbohong, ternyata itulah pekerjaan David yang sesungguhnya. Oh Tuhan, mengapa jalan hidup ini kadang terasa berat untuk di lalui?. Keluh ku pada Tuhan akan hidup ini.

Yah hidup oh hidup, seluruh teman ku akhirnya mengetahui siapa aku. Dan mereka pun mengucilkan ku, karena aku seorang gay. Mungkin mereka tak bisa menerima seorang gay, tapi waktu mengubah segalanya. Perlahan mereka dapat menerimaku kembali, mungkin mereka telah mengerti bahwa aku sama dengan mereka hanya saja jiwa ku yang berbeda. Bagi sebagian orang, orang seperti aku ini di anggap negative karena kenyatannya aku adalah bagian minoritas yang artinya orang seperti ku hanyalah sebagian kecil dan mungkin masih susah untuk mayoritas menerima keberadaan orang seperti kami. Di malam itu, ku merenungkan akan semua yang terjadi serta kejadian-kejadian yang ku alami.

Apakah aku salah terlahir sebagai manusia?
Apakah aku terlalu hina untuk menjadi manusia?
Apakah aku tak pantas akan kehidupan ini?
Apakah aku salah memiliki rasa cinta dan kasih sayang?
Aku ini hanyalah manusia yang memiliki perasaan, perasaan yang sebagaimana mestinya manusia.
Aku hanya ingin menikmati hidup ini, hidup yang harus aku syukuri.
Aku terlahir seperti ini, dan inilah jalan hidupku.

Aku terkadang heran, apa yang salah dalam diriku ini apakah salah menjadi seorang gay?. Mengapa untuk mereka yang bukan seperti diriku ini sangat sulit untuk menerima sesosok seperti diriku?. Ricky dan David, adalah sosok yang akan aku ingat selamanya biar bagaimana pun mereka pernah menjadi bagian dari kisah hidupku dan aku berterima kasih kepada mereka atas apa yang aku dapat dari mereka dan aku selalu teringat akan hinaan dan celaan dari para mayoritas dan awalnya aku memang tak dapat menerimanya dan pastilah rasa sedih akan hal itu. Tapi aku tahu, inilah hidup dan beginilah hidup, ada suka dan duka. Kehidupanku mungkin berbeda dengan yang lain, tapi aku hanya manusia. Cobalah untuk menghargai, menghormati serta menerima orang seperti aku ini di dalam mayoritas masyarakat. Kami hanyalah minoritas yang mencoba berbaur dengan mayoritas.

Farhan,

by GaWi
Read More »»  

Sabtu, 25 Juni 2011

Gambaran perkuliahan di luar negeri

Kuliah di luar negeri, orang mungkin beranggapan 'wah', padahal sih sebenernya biasa aja. Mungkin disana kita para mahasiswa gak terlalu di tekankan dengan aturan yang ada.

Bisa di bilang mungkin culture shocked, pertama menjalani kuliah di Sydney, sedikit kaget juga. Karena beda sama di Indonesia, dimana kalo di Indonesia terlalu banyak aturan. Selama kuliah 2 tahun di Surabaya, peraturan pertama adalah dilarang telat, itu biasa. Untuk masalah pakaian harus rapi dan menggunakan sepatu.

Nah, kalo di luar, awalnya rada kagok, karena kalo di Indonesia harus menggunakan sepatu, tapi berhubung aku disana bangun tidur langsung berangkat kuliah tanpa mandi, sepatu cari yang gak tali, biar gampang. Tapi lama-kelamaan ribet juga, karena harus pake sepatu, sedangkan bangun langsung berangkat, makanya aku putusin pake sandal jepit ke college. Kagok juga sih awalnya, soalnya yang lain pada pake sepatu, tapi lama-lama kebiasaan pake sandal jepit kalo ke college. Karena simple dan yang lain gak ada yang ngelarang, terutama si dosen, so santai aja.

Selain itu, masalah pakaian justru sangat bebas. Pernah waktu itu salah satu temen, masuk kelas cuma pake singlet sama celana pendek, ada lagi yang masuk kelas cuma pake jersey basket. Kalo masalah harus tepat waktu datang ke kelas, memang harus, karena pintu kelas dibuat kalo sudah tertutup langsung kekunci dari dalam kelas.

Masih masalah baju, kalo si cewek juga ada yang cuman pake kayak bikini dan di tutupi pake daleman yang rada transparan dan pake celana pendek. Selain itu ada cewek yang pake baju pesta, dan tentu berdandan ria, untung aja si cewek cantik, jadi enak di liat tapi gak bisa di rasain.

Maish seputar cewek, pernah suatu ketika si cewek ini gak pernah masuk kelas.gak pernah masuk pelajaran, and dateng ke kelas tanpa alas kaki alias nyekerman, mungkin dia gak ada duit buat beli sandal. Udah masuk kelas nyeker, pake headphone, bajunya tank top pula, beh, kalo di Indonesia mah udah di usir tuh cewek.

Kalo soal urusan dosen, tentu beda juga. Pertama kali masuk kelas critical thinking, aku kira si cleaning servisnya masuk kelas buat bersihin papan tulis, eh gak taunya itu si dosen. Rambutnya keriting gondrong, breweokan pula, tapi dia ini baik.

Nah, beda lagi sama dosen kelas politik, penampilan si biasa, kelihatan macho, tapi kalo udah masuk kelas, berubah, sukanya minum cafein di kelas, kalo ngajar sambil ngesot duduk di meja bagian depan sambil gigit-gigit pulpennya.

Hiburan disana yang ada cuman bar and pub, karena semua mall di Australia tutup jam 5 sore dan yang paling lama cuman 9 malem. Jadi orang sana lebih banyak menghabiskan waktu di bar.

Nah, ini hal yang gak akan pernah aku lupain kalo masalah bar. Kalo masuk bar layaknya di film-film barat yang dimana kita harus antri, kita gak perlu bayar. Masuk ke salah satu bar, nitip tas di bar itu, terus keluar lagi cari bar lain, beberapa menit balik lagi ke bar itu. Si security liat mataku, dikira aku mabok, padahal udah ngatuk banget, di tambah pula pake kontak lense, jadi iritas. Terus si security tanya, eh malah di usir, nah bingung tasku yang di titipin, aku bilang, "My bag inside.", eh malah dia panggil security yang lain, langsung aku di usir. Beh, kejadian yang gak bakal di lupain, sebenernya msih banyak kejadian yang tak terlupakan, but anyway, tintanya udah abis.

by GaWi
Read More »»  

Jumat, 24 Juni 2011

Letter to....


Beb, you know what, when the sky is falling down, I always besides you. The shine of your eyes, seems like a moon in my heart, your skin like a porceline.

If I want your love, would you give it?, beb, when I see your smile, it seems that I touch the night skies. The stars in the sky is falling down into my heart.

But babe, in every sorrow and misery that you gave to me, it seems like a drug. A drug which kills my body slowly, but anything that you gave to me, at least I can learn some lesson.

Love, don't you doubt my love?, what I feel know, actually I don't know what I have to do. Time always spinning around like a wheel.

But know I realize that I found my identity, I found my self, I found who I am.I'm happy with who I am, I'll live my life with or without you. It's me,

au revoir!!!

by GaWi - 24.06.11
Read More »»  

Sabtu, 11 Juni 2011

Pa kabar cinn??

Apa kabar cinnn? C.I.N.T.A. itu yang biasa kita rasakan, tua-muda, muda-anak-anak, anak-anak-balita, dunia di penuhi oleh L.O.V.E. Ada yang terluka karenanya, ada juga yang bahagia olehnya. Apa itu cinta? Kata orang; cinta itu penderitaan, cinta itu pembodohan, cinta itu semu, dan lain-lain. Mungkin itu nasib yang tersakiti atau apalah, tapi ada juga yang ngomong; cinta itu masalah perasaan, cinta itu hal yang ribet, cinta itu keajaiban, cinta hal yang terindah di dunia. Simple kata, cinta adalah PERMAIAN, main poker nanti bisa kea rah judi, domino juga, togel apa lagi, mending mainin CINTA, gak ada ke arah judi, justru kea rah DOSA (sama aja). Jangan bermain-main sama CINTA apa lagi (ber)CINTA, nenek bilang itu berbahaya. Kita mashup lagi tentang cinta, mashup itu perpaduan antara 2 buah apel lagu atau lebih. So, kita paduiin antara cinta satu malam dan keong racun, jadinya gini;

Cinta keong racun, Oh indahnya, Cinta keong racun, Buat ku melayang…

Cinta itu butuh pengorbanan, so, gimana kita liat pengorbanan dari cinta?sampe berdarah-darah?sampe kita terseok-seok atau ampe ngesot-ngesot?. Ok, cinta, cinta itu butuh biaya (mungkin), ambil contoh, kita ngapelin pacar bawa apel, berapa harga apel?duit keluar, atau beliin martabak buat ortunya, sekalian PDKT, TP-TP, TPU, GPL. Gimana ya kita bisa membutikan cinta?atau mungkin cara ungkapin aja deh perasaan kita. Nah nih salah satu cara ungkapin cinta dari temen aku ke cewek.

Jadi, pulang sekolah, rame-rame tuh di luar kelas, semua anak pada keluar. Aku kira ada apa, rupanya ada yang lagi ungkapin cintanya, jadi si cowok ini di lantai bawah, dan si cewek nih di lantai atas. Si cowok ungkapin dengan teriak dari bawah ,”AKU SUKA KAMU”, teriak tuh cowok, anak kelas yang liat pada teriak, muka si cewek bisa di bayangin merah merona berseri-seri kayak iklan kosmetik. Si cewek ini jelaslah malu, tapi namanya gak cinta, akhirnya di tolak lah si cowok. Ok, apa ini bisa di bilang pengorbanan cinta?karena udah gak punya malu, atau nih cowok emang udah gak punya (ke)maluan. Paling gak dia udah punya nyali buat ungkapin perasaan, masalah di tolak atau ghak, itu urusan belakang, asal jangan main belakang yan, soalnya sakit banget.

Ok folks, nih mungkin yang kita alami. Cinta, tetesan butiran bening kecil tak terlepas. Folks, nangis itu juga ada manfaatnya loh. Bantu pengelihatan, kalo gak percaya buktiin sendiri. Fungsinya kurang lebih kayak obat tetes alami, kalo lebihnya kurang tau. Ningkatin mood kita, kalo abis nangis tuh biasanya hati lega dan jadi seakan kayak gak ada beban lagi (padahal ada)., yah kurang lebih gitu lah. So, cowok atau cewek, nangis itu hal yang wajar, tapi biasanya cowok gak mau kelihatan kalo lagi nangis, gengsi dunk.

Cinta, ada pasangan saling mencintai (katanya), tapi saling menyakiti. Itu yang namanya cinta?. Cinta, tapi saling mempermainkan, itu yang namanya cinta?. Salah seorang model dari inggris ngerilis parfum beraroma cinta, kebayang gak tuh gimana?katanya cinta gak bisa di lihat, tapi bisa di jadiin parfum, kalo cinta yang jadi arti udah ada, Cinta Laura.

Rupanya parfumnya ini komposisinya, rempah-rempah, lada merah muda, nectar peach, lily gunung. Kalo lada merahnya dig anti bawang merah gimana ya?. Inilah parfum yang beraroma cinta. Kalo aku buat parfum, kompisisinya, pete muda, jengkol muda, bawang putih, lada hitam, cabe, gula jawa, gula merah, daun bawang. Gimana aromanya?pasti ancur tuh. 

by GaWi
Read More »»  

Minggu, 05 Juni 2011

Sapi betina


Aku terbangun dari tidur ku, rumahku di pedesaan, hanya sebuah gubuk reot. Ku buka pintu rumah ku, “Kreeek”, bunyi pintu yang udah reot. Di depan rumahku terdapat sawah yang indah, burung-burung berkicauk, hamparan padi berjoget ngebor, orang-orangan sawah diam bak patung.

Ku jalan melihat sawahku seperti biasa, ku pandangi langit yang biru nan indah. Ku termenung, dan beberapa menit kemudia, seekor sapi betina menghampiriku. Terus mendekat ke arahku, dia menatapku, pikirku, “Ini sapi edan opo yo?”. Tapi tiba-tiba si sapi betina berbicara, “Hallo cowok.”, dan aku pun kaget bukan kepalang. Si sapi betina ini pun bierbicara lagi, “Cowok, kok gak di jawab?”, aku semakin kaget. Akhirnya pikiran psyho ku keluar, “Ini sepertinya sapi mau bunuh aku.”, akhirnya aku pun lari menjauh darinya, namun si sapi betina pun teriak, “COWOK, JANGAN LARI DUNK.”, aku tak menghiraukannya. 

Aku lari dengan melihat kebelakang, kea rah dia, dan tak melihat kea rah depan. Karenanya, akhirnya aku jatuh ke empang, “Gubrak..glutak..glutukkkk.”, aku melihat bebek-bebek berterbangan di atas kepala ku, bintang jatuh mengenai kepalaku. Sewaktu di dalam empang, ku melihat se-ekor sapi lagi, pikiranku mulai psycho lagi, kini ku melihat sapi jantang, isi pikiranku, “Jangan-jangan si sapi mau sodomi aku, atau itu sapi titisan Robot Gedex?”. Aku lari di dalam empang, tapi si sapi terus mengikutiku, aku berhenti, si sapi ikut berhenti. Saat aku perhatiin baik-baik, aku kaget, ternyata sapi itu adalah aku. Aku berubah jadi sapi, “TIDAKKKKKK.”, di dekat empang ada pohon durian, buahnya terjatuh mengenai kepalaku, aku pun seketika pingsan di telan empang.

Aku semakin tak bisa bernafas, “Blubb..blubb..blubbb.”, beberapa menit kemudian, aku tersadar. Ternyata aku hanya mimpi, ternyata aku jatuh di dalam empang, karena aku tidur di dekat empang di temani sapi betinaku.

Untung aja aku bukan sapi, aku bakal di jagal atau di perah (tapi aku kan cowok, apanya ya yang di perah?).

Salam, Moo-moo

by GaWi
Read More »»  

Jumat, 03 Juni 2011

Manusia coklat



 “Hoaammm”, aku beranjak bangun dari tidurku, dan aku langsung keluar dari kamar. Kubuka pintu kamarku yang sedikit reot, adikku yang bernama Pappu jalan menuju dapur, dan aku langsung bicara, “Pappu, TV karam he”, dan Pappu hanya menjawab “Hah?”, aku pung mengulangi, “TV karam he.”, Pappu jawab dengan kata yang sama, dan beberapa meni kusadari, ternyata bahasaku beda. Padahal aku tak bisa bahasa India sama sekali, dank arena aku syok tak bisa menerima ini, aku pun lari keluar pintu rumah.

Langsung kubuka pintu rumah dan aku lari sekencang-kencangnya, rumahku dekat dengan pertokoan. Aku lari hingga ke pertokaan, ku diam sejenak.  Tiba-tiba saja beberapa perempuan menghampiriku, pikirku dia mau kenalan. Tapi dia langsung memegang tanganku, sontak aku kaget, dan dia langsung memasukan tanganku ke mulutnya. Aku kaget, dan aku menoleh kebelakang, aku justru tambah syok. Aku menoleh ke arah kaca yang ada di luar pertokoan, ternyata aku berubah menjadi manusia permen coklat. Jadi orang melihatku sebagai manusia coklat yang dapat berjalan. Si cewek masih memasukkan tanganku ke mulutnya, sambil sesekali dia menjilat muka ku. Tanganku dimakannya, dan dia menggigit tanganku, “Awh”, teriakku.

“Awh”, langsung kubuka mata, ternyata semua itu hanya mimpi di dalam mimpi. Dan yang menggigit tanganku ternyata si Bubu, anjingku. Rupanya yang menjilat-jilat itu si Bubu. Mimpi yang aneh, tapi untungnya aku tak jadi manusia coklat, karena hidupku bakal tergantung pada berapa lama aku dapat bertahan dengan sengatan cahaya matahari dan jilatan orang yang ingin memakanku.

Salam coklat,

by GaWi
Read More »»  

Kamis, 02 Juni 2011

Hanya coretan tinta


Kadang tak pernah terbesit di benak ku tantang apa itu masa depan, atau menjalin suatu hubungan. Tapi itu semua berubah setelah aku mengenal Kendra, dia seolah merubah hidupku, yah walaupun semua itu singkat, tapi aku mendapat sesuatu yang bisa merubah hidupku.

Hidupku yang terpikir hanya diri sendiri dan bersenang-senang, tapi perlahan aku sadari semua itu hanya membuang waktu saja. Cinta itu merubah seseorang, mungkin ada benarnya. Bagaimana Tuhan mempertemukan kita dengan seseorang, itu hanya Tuhan yang tau, DIA yang merencanakan semua. Dimanapun kita dapat diketemukan dengan seseorang itu jika Tuhan berkehendak dan dengan cara-NYA yang mungkin awalnya kita pikir mustahil.

Namun namanya suatu hubungan, jika memang bukan ‘jalan’nya, ya harus disudahi. Semua perasaan campur aduk menjadi satu, tapi kita tak bisa melawan kehendak-NYA, walaupun kita udah usaha. Kendra adalah sosok yang lain dari yang lain, tapi tentu saja ada kurang dan lebihnya. 

Janji setia kala itu, janji manis kala itu, kata-kata manis kala itu, semuanya telah menguap bagai asap rokok. Pahit memang, tapi mungkin itu yang terbaik buat semua, yah mungkin ada hikmah dari semuanya dan itu adalah proses pembelajaran dalam hidup.

Terbaik dari yang terbaik, yup, itu yang selalu kita inginkan. Tapi adakah terbaik dari yang terbaik?, mungkin sebaiknya kita mencari yang kurang, jangan yang terbaik. Kurang yang di maksud adalah sesuatu yang menjadi nilai minusnya dan kita berusaha merubah nilai minus itu menjadi plus. 

Sebenarnya dalam menjalin suatu hubungan itu gampang, cuman butuh kesadaran dari diri masing-masing, karena manusia itu tak puas akan 1 hal dan akhirnya terjadilah perselingkuhan atau semacamnya. Toleransi, itu yang dibutuhkan dalam suatu hubungan, saling memahami dan respect terhadap pasangan, biar gimanapun pasangan kita memiliki privasi. Jangan mentang-mentang udah jadi pacar atau apalah terus, “Gue kan cowok loe, jadi wajar dunk gue periksa HP loe/tau segala tentang loe.”, sebaiknya kita ijin terlebih dahulu, kalo memang gak di ijinkan ya udah, kita harus respect kepadanya.

Tapi kalo di pikir, dunia ini indah, masih ada hal menarik selain CINTA. Kesendirian, ini adalah proses yang bagus, tapi bagusnya dimana coba?. Kesedirian, gunakan kesendirian buat waktunya merubah segalanya, intropeksi itu yang penting. Gunakan untuk menjadi yang lebih baik dari sebelumnya, dan kita bakal bisa menilai masa lalu kita.

Firasat, apa hubunganya dalam suatu hubungan?, kadang kita dapat merasakan sesuatu yang buruk atau suatu kebohongan. Dimana menjelang kata ‘PUTUS’, kadang kita dapat merasakan itu. Hidup berjalan terus, itu pasti, dan kita harus berubah menjadi orang yang lebih baik. “Loe tuh takdir cinta gue.”, tapi akhirnya sebaliknya, itulah cinta, kata-kata manis terlontar.

Yup, akhirnya aku seakan terbangun dari mimpi. Pacaran itu seakan membuang waktu, banyak waktu yang harus kita korbankan dengan sang pacar. “Lah terus gimana bisa nikah kalo belum pacaran?, pacaran kan proses pengenalan untuk ke jenjang yang lebih serius.”, yah, ada benarnya juga, tapi prioritaskan mana yang lebih penting dalam hidup, prioritaskan tujuan hidup kita, toh dunia masih bisa berputar kalo kita gak pacaran.
Bangkit, kita harus bisa bangkit sendiri tanpa orang lain. Mungkin awalnya butuh pembelajaran, tapi perlahan kita bakal bisa, bagaikan seorang bayi yang harus di ajari berjalan dan lain-lain, akhirnya si bayi pun bisa tanpa harus di ajari lagi. Kadang kata-kata “Ku rela karena ku harus.”, ada benarnya juga. Itu semua demi kebaikan kita, walaupun memang sulit, dengan gitu kita akan belajar mengenai sesuatu yang akan kita tau jawabannya.

Tak ada yang perlu disesalkan, semuanya udah sesuai kehendak-NYA. Kita cuman bisa terima apa pun itu dengan cara selalu bersyukur akan semuanya. Semua itu ada hikmahnya, dan itulah cinta yang bisa member hikmah untuk diri sendiri dan (mantan) pasangan kita.

P.S. – Tulisan ini cuman fiktif, isi pikiran aja, dan terinspirasi dari lagunya Gamal – Cuma aku.

by GaWi 
Read More »»  

Rabu, 01 Juni 2011

Ya, inilah cinta

Cinta itu aneh, di sebuah forum, aku ngajuin pertanyaan yang isinya;

"Aku perhatiin kalo pasangan hidup itu awalnya gak ada raswa cinta..ga ada perasaan..kebanyakan kyk gitu..
Apa kita mau menerima seseorang d terima gitu aja tanpa ada persaan?krn faktor yg lain..misal baik dll..tapi rasa cinta ga ada..
Apa yg kyk gitu lbh baik?
Plus minumnya kyk gt apa?"

Jawabannya juga bervariasi, and ini jawaban dari mereka;
1. "menurut pengalaman gw, gw pernah ngalami yg kek gitu.. malah parah banget.. gw dijodohin ama nyokap bokap gw.. waktu itu gw masih sekolah.. si cwo malah mau ngajakin gw tunangan.. ogah banget.. gw udah bilang ke dia, kalo gw kagak suka sama dia dan kagak pernah bisa suka / sayang sama dia.. meski dia kata sayang banget sama gw, tapi gw kagak sama sekali.. sampe sampe, nyokap gw selalu menomor satukan dia.. ape ape selalu dia.. salah bener, gw yg salah dia yg bener.. hadeh,,,,,

singkat cerita, sekarang dia sadar kalo gw kagak pernah bisa ngebales perasaannya dia.. dia sekarang udah tunangan sama cwe laen.. jadi, pada intinya,,,, meski dia baek di mata keluarga gw, tapi kagak bagi gw.. enek gw sama dia.. maksa perasaan gw tuk care sama dia..

kesimpulan :
jangan pernah menerima seseorang yg tak kau cintai meski sebaek ape pun dia ke elu.. kerna itu hanya bisa ngebuat elu tersiksa dan terpaksa / memaksain perasaan elu aje.."

2. "kata orang rasa cinta bisa datang kapan saja ... bukannya km dan kekasih km dulu sebelum bertemu juga biasa2 saja,ga ada perasaan sama sekali...tp begitu seiring waktu berjalan barulah perasaan itu semakin kuat,perasaan ingin membahagiakan dan memberikn yg terbaik untuk pasangan ....

selama k menyadari hal diatas kayaknya ga ada minus apapun,toh km juga ga akan kehilangan sesuatu kan ... untuk merasakan cinta belajarlah memberi bukan menuntut..."

3. "ada pepatah jawa: "WITING TRESNO JALARAN SEKO KULINO" yg maksudnya: akan adanya perasaan cinta karena terbiasa.
jadi klo kita sudah terbiasa bersama terutama dalam kehidupan sehari hari kita akan mengetahui sifat" dari si dia, kita juga terbiasa menghadapi suka & duka bersama dia. dari kebiasaan itu biasanya kita akan berusaha untuk saling melengkapi satu sama lain, karena prinsip dari suatu hubungan adalah mencari perbedaan untuk dipersatukan dan saling melengkapi. bukan persamaan yg dicari dalam sebuah hubungan, coba saja kamu bayangkan apabila pasangan kamu memiliki semua persamaan dg kamu, pasti nantinya hubungan kamu akan cepat membosankan karena tidak ada variasi. Tuhan menciptakan segala sesuatunya berbeda dg tujuan nantinya bisa saling melengkapi & saling memberi warna satu dg lainnya. begitu jg hubungan diantara 2 individu.
perasaan cinta itu biasanya datang di saat yg tak terduga, tetapi bukan tidak mungkin untuk dibentuk.

plus minus:
- mungkin kita awalnya harus beradaptasi dahulu dengan pasangan kita
- membutuhkan waktu. cepat lambatnya tergantung kalian berdua
- apabila telah ditemukan kecocokan biasanya bakal bs lbh langgeng"

4. "walopun sebelumnya ga ada rasa apa2, tapi kalo ada kesamaan (misal prinsip dan hobi), pasti lama2 akan terjalin chemistry juga
yang didasari cinta pun kadang retak lo bila dalam perjalanannya lebih banyak ketidakcocokan.
yang penting pasangan kita punya komitmen dan ada kesamaan buat modal menjalin hubungan yang lebih dalam
insyaAllah sreg

kalo maksud pertanyaannya tentang cinta sejati, mungkin jawabannya akan lebih sulit
susah untuk mencari pengganti dari cinta sejati kita, jadi kalo dah ktemu, jaga dia baik2"

5. "penjelasan yang logis, kita jangan mencintai siapapun.... (sebelum mampu mencintai Tuhan)
karena alam kubur benar-benar ada !!!"

6. "tergantung orangnya loh.
gini ja ya. pahami arti puisi ini.
belajarlah mencintai orang yang mencintai kita.
sebab........
dari pada kita mencintai orang yang kita cintai.
sebab.........

baik buruknya itu tergantung kita menilainya.
mey bye yes mey bye no."
 
7. "Kata sapa pasangan yg awalnya tidak ad perasaan seterusnya pun akan begitu.
Benih cinta bisa muncul karena sering bertemu.
G terlalu bgs sih gw dlm hal ini, but well you don't need too worry about that."
 
 
Well, apapun itu, cinta itu tak terdefinisi. Inilah cinta, hargailah dan rawat cinta itu.
Love, peace for brotherhood!!!
by GaWi
Read More »»  

Minggu, 29 Mei 2011

Jadi apa ya?


Jadi apa ya enaknya?, mulai berandai-andai;

Jadi seorang pegulat, hmm, enak sih. Gak ada yang berani, karena badan kita besar berotot kawat bertulang besi. Sapa tau bisa masuk ke WWE, wah, jadi superstar. Uang berlimpah, iklan dimana-mana, main film pula. Tapi tunggu dulu deh, kayaknya gak enak, soalnya pola hidupnya harus di atur, pola makan juga, and saben hari harus latihan ke gym, kalo ke AA Gym mungkin dapet pahala, lah ini justru otot tambah gede. Kalo otot segede gajah, nanti sapa cewek/cowok yang mau?, masa yang mau gajah?, nanti anaknya jadi gimana?, wah, menyalahi aturan Tuhan, kasian si gajah. Pegulat di coret dari pengandaian karena alasan diatas.

Jadi binatang, yayayayayaya. Tapi binatang apa ya?,hmmm, jadi semut nanti keinjak gajah, jadi semut penyet, tinggal di kasih sambel, enak tuh. Jadi burung gimana?, bisa terbang tuh. Tapi kalo sayapnya patah sebelah gimana ya?, seumur-umur belum pernah liat burung terbang pincang. Gimana kalo kodok?, nah mungkin masih mending, karena ada pangeran kodok, tapi jadi kodok juga di swike. Mooooo, yup, sapi, tapi si sapi di perah terus dan kebanyakan dari mereka harus merelakan hidupnya di tempat pemotongan sapi. Tikus, enak tuh, makannya berkelas, keju. Tapi tikus tinggal di gorong-gorong, kalo jadi tikus nanti kalo kena penyakit PES gimana ya?,(tapi apa tikus sendiri bisa kena penyakit PES ya?) tapi kebanyakan dari tikus ini harus berakhir di perut kucing atau mati kena jebakan tikus. Aha, jadi singa. Bisa jadi penguasa hutan, tapi nanti kalo pas lagi jalan ke kota si singa gak jadi penguasa, gak seru dan lagi singa suka jadi buruan dan yang terpenting kalo kena raja singa gimana?, gawat tuh. Buaya, sepertinya cocok jadi buaya. Tapi kayaknya kalo jadi buaya nanti kulitnya banyak yang ngincar, tapi untung aja di Kalimantan ada penangkaran buaya, jadi kalo kita sebagai buaya gak usah takut. Tapi kalo jadi buaya, nanti cewek gak ada yang mau, soalnya jadi buaya darat. Behhhh, jadi binatang juga ribet ya, kayaknya binatang di coret dari daftar pengandaian.

Jadi benda mati, nah ini seru kayaknya. Kenapa?,soalnya kita gak bisa ngerasain rasa sakit dan lain-lain, mau di rusak silahkan. Tapi kalo kita jadi benda mati, gimana kita berkembang biak ya?, kayaknya selama benda mati gak bisa berkembang biak, dunia ini masih normal dan kayaknya benda mati di coret dari daftar pengandaian.

Jadi matahari, enak tuh, soalnya menerangi bumi ini. Tapi tunggu dulu, kalo jadi matahari kayaknya bakal kesepian deh, soalnya gak punya pacar terus gak punya pendamping hidup. Kerjanya nerangi bumi terus, gak ada istirahatnya. Kayaknya tugas yang berat deh, jadi kayaknya matahari di coret dari daftar pengandaian.

Jadi orang terkenal, enak juga sih. Kehidupan mewah, uang banyak, tapi sibuk banget. Waktu sama keluarga berkurang, kalo kayak gitu, kasian juga ya keluarganya. Dan di tambah lagi kalo ada gossip gak bener, atau fans gila. Tapi keterkenalan kadang juga mengakibatkan malapetaka, contohnya pelaku bom Bali. Kan terkenal banget tuh, sampe go international. Jadi orang terkenal kayaknya harus di coret juga deh.

Jadi ini-itu semua salah, semua susah. Lebih enak kaykanya jadi diri sendiri aja deh, dan berandai-andai itu silahkan aja, tapi yang selalu di ingat, jangan sampai ke-andai-andaian kita di bawa ke dunia nyata. Kalo mau di bawa silahkan, tapi jangan terlalu fanatik, nanti akhirnya jadi wanna be….. . So, jadi diri sendiri walaupun banyak minusnya, tapi inilah diri kita dan terima apa adanya. Jadikan kekurangan kita suatu kelebihan di mata orang lain.

by GaWi
Read More »»  

Cepat berlalu


Ingin berlalu, yup, itulah yang sebagian kita inginkan. Sesuatu untuk cepat berlalu, namum ada juga sesuatu yang tak ingin berlalu. Kebahagiaan, itulah yang sebagian dari kita meminta agar kebahagiaan itu tak cepat berlalu.  Ada kebahagiaan tentu ada kesedihan, dan itulah hal yang kita ingin cepat berlalu. Lantas bagaimana dengan umur? Maukah umur cepat berlalu atau tidak?, bagaimanapun umur terus berjalan. Bagaikan sebuah baterai, dimana awalnya penuh dengan power, namun lama-lama mulai berkurang dan berkurang.

Cepat berlalu, adakah cinta yang abadi?, adakah cinta yang kuat terhadap waktu?. Cinta, ada yang ingin cepat berlalu ataupun tidak. Kepercayaan, mungkin itu yang di butuhkan cinta, apalah arti semua itu kalo gak ada kepercayaan. Cinta, apakah kita membutuhkannya?, bisa iya, bisa tidak, tapi apa jadinya tanpa cinta?, hampa?, itu adalah hal yang biasa. Yang lebih sadis adalah pembunuhan, kok bisa?, perang adalah akibatnya cinta yang hilang. Coba kalo kita sesama manusia bisa saling mencintai, mungkin tak aka nada perang. Perang tanpa hal yang jelas, dengan embel-embel ‘agama’.

Entah apa yang ada di pikiran kita sebagai manusia sekarang ini. Isinya hanya kepentingan diri sendiri, rasa berbagi terhadap sesama seolah hilang. Apakah kita ingin waktu cepat berlalu?, bayangkan aja kalo kita hidup 1000 tahun lamanya, akankah menjadi berkah atau siksaan?. 

Cepat berlalu, masa-masa kita, dari lahir hingga mati, maukah kita mempercepat hingga di ujung kematian kita?. Masa-masa bahagia, sedih, maukah kita mempercepat itu semua?, lantas apa yang kita dapat dari hidup ini kalo semua bisa di percepat?.

Cepat berlalu, itu yang kita harapkan jika dalam posisi terpuruk kita. Seakan ingin semuanya cepat berubah maju kedepan. Wuttttsss, cepat dan cepat dan stop dan play, itu yang akan kita lakukan jika mulai kelihatan kejadian yang menyenangkan.

Tak usah cepat berlalu, suka-duka campur aduk. Mungkin itulah hal yang sebenarnya, tak usah di percepat atau di perlambat. Apa pun itu, kita harus menghadapinya, jangan lari dari kenyataan, kalo kita punya remote kehidupan yang bagaikan remote DVD, kita tak akan pernah tau arti hidup yang sesungguhnya. Kita tak pernah merasakan rasa bahagia yang mendalam dan keterpurukan, kita tak dapat menikmati hidup ini. Bagaimanapun hidup ini, selalu bersyukurlah pada-NYA.

By GaWi
Read More »»  

Sabtu, 28 Mei 2011

Jasmine


Dear diary,


Cinta monyet, cintanya anak kecil dimana ada rasa suka terhadap lawan jenis. Jasmine, cinta masa kecilku, umurku sekarang 25 tahun, namaku Romy. Jasmine adalah adik kelasku ketika di SD.

SD
“Tendang bolanya Rom.”, teriak seorang temanku, dan ku tending bolanya tetapi meleset. Dari kejauhan ku lihat seorang gadis tersenyum melihat tendangaku yang meleset itu. Rupanya dia adik kelasku, selepas permainan bola selesai, ku hampiri dia, “Kenapa tadi tersenyum?lucu ya lihat tendangan ku yang meleset?”, tanya ku jutek padanya, “Gak kok, jangan galak-galak. Aku kan takut.”, ucapnya dengan muka seperti mau nangis, “Iya maaf, habis aku kesel banget sih.”, tambahku sambil menggaruk kepalaku. Dari situ, kami berkenalan, Jasmine namanya, kulitnya yang putih mulus serta parasnya yang cantik, bagai bidadari. “Aku beliin minum deh buat permintaan maafku.”, kataku kepadanya, “Gak perlu kok.”, jawabnya, “Udah, gak apa-apa kok.”, paksa ku kepadanya. Tiba-tiba datang seorang lelaki dengan badanya yang besar, “Kenapa dek?dia ganggu kamu ya?.”, ucap sang lelaki itu, “Gak kok kak, dia baik. Beliin aku minum.”, jawabnya kepada sosok itu, dan dia pun memperkenalkan ku kepada sosok itu. Dia adalah kakaknya, Riko namanya dan dia 1 tahun di atasku, alias dia adalah kakak kelasku. Kami pun semakin dekat, terkadang untuk mencari perhatiannya, aku berjalan di depan kelasnya, hanya sekedar lewat dengan curi-curi pandang mataku melihat ke arahnya. Namanya anak SD, malu-malu kucing jika orang bilang. Suatu ketika, ku beri dia sebuah celengan berbentuk doraemon, dan ku berikan padanya. “Makasih ya Rom.”, katanya sambil tersenyum. Yup, dia memang suka dengan doraemon. Saat itu, jam istirahat dan ku ajak dia mebeli jajan di kantin, “Mau cokalat gak?”, tanyaku, “Mau.”, jawabnya singkat, dan aku pun membelikannya coklat, “Kita bagi dua ya Rom.”, katanya padaku dan membagi coklat menjadi dua. Tahun demi tahun kulewati, dan hingga aku pun lulus SD. SMP, SMA, dan kuliah, ku tak tahu bagaimana Jasmine sekarang, karena semenjak lulus SD aku tak tahu kabarnya lagi.

Kuliah
Kuliah, buku-buku yang tebal, membuat mataku ini menjadi tebal pula. “Rom, betah banget loe jomblo?”, tanya Dika, temanku di kampus, “Jangan-jangan loe gak normal ya?”, candanya, “Sialan loe, gue masih pengen jomblo aja. Ntar kalo waktunya juga ada.” , jawabku padanya. “Tuh, liat cewek sexy Rom.”, katanya sambil menunjuk ke cewek yang di maksud, “Ah loe mah sexy mulu yang di lihat, hati coy yang penting.”, kataku, “Iye, tapi sexy juga penting bagi gue. Emang loe mau pacaran sama nenek-nenek yang berhati mulia?”, ucapnya, “Ya why not lagi”, kataku sambil ketawa, “Ah, aneh loe.”, katanya kemudian. Sexy itu bukan jaminan, sexy, coba bayangkan jika telah tua, ke sexyannya hilang. Tapi hati, selalu tak berubah, maksudnya selalu berbentuk tetap dari kita lahir hingga tua. “Bu, ayam penyet sama kopi susu satu bu.”, ucapku kepada ibu kantin, yah, saat itu kami berada di kantin, dan Dika sedang menemaniku, dia hanya mengepul-ngepulkan asap rokoknya sambil minum kopi pahit. Dika memang perokok, baginya asal ada rokok, makan gak penting, ntah bagaimana jika dia tua, mungkin penyakit telah menunggunya. “Rom, nonton basket yok habis nih?”, tanyanya dan aku pun menyetujui ajakannya. Di pertandingan basket antar kampus, dan saat itu sedang babak ke-2 atau half time yang dimana biasanya di isi dengan para cheerleders sebagai hiburan. “Gile, cantik-cantik banget ya.”, ucap si Dika, “Cantik mah bukan jaminan Dik, tapi..”, belum selesai ku bicara dan dia menyahut, “Hati lagi? tapi apa loe mau punya pacar yang jelek.”, katanya, “Yah gak maul ah, tapi face tuh bukan yang terpenting. Bagi gue tuh nomer yang keberapa.”, tambahku, “Yah serah loe deh Rom.”, katanya dan dia sambil matanya tertuju ke arah gadis-gadis cheers. Face, tak bisa di pungkiri memang yang di lihat pertama kali dari seorang pasangan adalah itu. Karena kenyataanya yang terlihat oleh mata kita adalah face, hati hanya bisa di rasakan.

Setelahnya, kami pergi mengisi perut karena hari telah sore. “Nasi goreng dua, sama es teh dua bu.”, ucapku kepada ibu warung. Dan lewatlah seorang gadis cantik, tetapi sayang tanganya buntung, “Tuh cantik, loe kan suka cewek cantik.”, kataku pada Dika, “Cantik si cantik, tapi sayang tanganya coy.”, katanya padaku, “Lah loe katanya cantik?masa sama kayak gitu gak mau? terus loe cari yang giman sih?.”, “Yah yang cantik dan perfect tanpa cacat.”, jawabnya, “Woy, gak ada yang perfect di dunia ini, kalo cara loe gitu, loe gak bisa terima seseorang apa adanya dunk. Loe kan gitu, fisik nomer satu.”, lanjutku dan dia termenung sebentar, “Hmm.”, “Mungkin kali ya, gue juga gak tahu.”, lanjutnya. Mengapa kita terkadang susah untuk menerima seseorang yang dengan kekurangan?, pikirku. Apa ada yang salah dengan mereka?, apa karena mereka tidak sempurna secara fisik seperti kita?. 

Semester demi semester kulalui dan akhirnya tiba di waktu kelulusan. Selepas lulus, Dika memutuskan membuka usahanya sendiri, dan aku berusaha melamar pekerjaan di sebuah bank swasta. Alhasil aku di terima di bank itu dan setahun sudah terlewati aku bekerja di bank.

Akhirnya....
Saat itu, pagi yang cerah dengan bersemangat aku berangkat ke kantor dan setibanya di sana, kesunyian yang kutemukan, mungkin aku terlalu pagi. Perputaran waktu, akhirnya perlahan satu demi satu memasuki kantor. “Maaf, saya orang baru disini, saya mutasi dari kantor cabang. Ruangnya manager di sebelah mana ya? saya mau melapor.”, kata si wanita itu, “Oh, disebelah sana.”, kataku sambil menunjuk ruang sang manager. Beberapa menit ia di dalam, dan setelahnya keluar di antar dengan sang manager dan berjalan menghampiri mejaku. “Rom, ini mutasi dari cabang, mejanya di sebelah kamu. Tolong bantu dia, karena dia masih baru disini.”, kata sang manager padaku. “Kenalin, nama saya Jasmine.”, katanya dengan sodoran tangan dan senyum, “Saya Romy.”, jawabku sambil menerima tanganya, “Jasmine ya, saya dulu punya teman bernama seperti kamu.”, imbuhku, “Saya dulu juga pernah punya teman bernama Romy, dia kakak kelas saya.”, katanya kemudian, dan aku pun terdiam sejenak, “Apa kamu pernah di kasih sebuah celengan dari kakak kelas kamu itu?”, tanyaku, dan dia pun terdiam berusaha mengingat, “Tunggu dulu, apa kamu jangan-jangan Romy yang dulu kasih aku celengan ya?”, “Berarti kamu Jasmine yang dulu aku kasih ya?”, “Iya, wah ketemu lagi ya Rom.”, katanya  dengan rasa bahagia. “Wah, setelah bertahun-tahun lamanya, kita ketemu lagi ya.”, kataku padanya, “Iya, lama banget, tapi biar gimana pun aku gak bisa lupa jaman SD loh. Kalo di ingat aku kadang ketawa sendiri.”, katanya, “Gila dunk kamu, habis ketawa sendiri.”, ucapku bercanda, “Ah bisa aja kamu nih.”, katanya sambil tertawa. Kami pun menjadi dekat kembali karena dia teman sekantor, jika jam istirahat tiba, kami makan siang bersama dengan bercerita tentang masa SD dan tantang kehidupannya. 

Jasmine, cantik dan baik, rambutnya yang panjang dan bergelombang bak ombak. Benih-benih yang orang bilang cinta telah tumbuh di hatiku ini hingga akhirnya, “Jasmine, tahu gak kau telah menumbuhkan bunga-bunga di hatiku hingga hatiku berbunga-bunga, mau kah kau menjadi kekasihku?”, kataku padanya di suatu taman, “Rom, tahu gak, aku juga suka kamu sejak kita di SD. Masa iya aku mau nolak pangeran SDku sih.”, ucapnya padaku. Dan akhirnya, kamipun menjadi sepasang kekasih, cinta monyet yang orang-orang bilang kini menjadi cinta bukan monyet, karena dulu masih kecil dan sekarang telah dewasa. Jasmine yang berarti bunga melati, dan sesuai dengan namanya, dia telah menumbuhkan bunga di hatiku, bunga melati yang indah di hatiku.

Romy,
Read More »»  

Senin, 23 Mei 2011

Tanpa judul

Dear diary,


Ini kisahku dimana saat itu aku duduk di bangku kuliah dan umurku saat itu 20 tahun. Martin itu lah nama yang di berikan orang tuaku padaku.

2000
“Maaf pak, saya telat masuk.”, kataku kepada sang dosen, “Maaf, maaf, saya tahu kamu telat masuk. Tidak ada yang perlu di maafkan, sekarang kamu keluar pintu dan pulang.”, kata sang dosen dan dengan tegasnya menyuruhku untuk tak mengikuti kelas. Yah, terpaksa aku ke kantin kampus, daripada kesel mikirin hal tadi aku putusin makan mie ayam. Ku duduk di pojok, “Gak ada kelas loe?”, ucap seorang cowok sambil memukul pundakku, “Eh loe Gus.”, kataku sambil menoleh padanya, “Gue telat, terus di usir deh gak boleh ikut kelas.”, imbuhku, dan Agus pun tertawa. Agus adalah temanku di kampus. “Eh, loe jomblo kan?”, “Iya, mang napa Gus?”, “Nih, gue kenalin temen gue.”, katanya sambil nunjukin foto teman ceweknya. “Wah, boleh juga tuh Gus”, ucapku padanya, “Minta nomer HPnya dunk.”, pintaku dan dia pun memberikan nomer HP temannya itu. Ku Tanya kenapa dia mengenalkan cewek itu kepadaku, dia bilang bahwa dia kasihan yang lihat aku menjomblo. Yup, aku memang terkadang selalu mengeluh karena aku yang jomblo, sebagai lelaki normal, aku juga ingin memiliki yang namanya pacar. Entah kapan tepatnya aku lupa, ku berkata pada Agus, “Gus, gue pengen deh pacaran. Napa gak ada yang mau sama gue ya?”, “Pacaran?pacaran aja sama gue, gue mau kok.”, ucapnya sambil tertawa. Begitulah tingkah si Agus. Kembali lagi ke teman cewek si Agus, setelah dia memberikan nomer HPnya, ku langsung SMS kepadanya dan alhasil dia pun membalas SMS, akhirnya kami pun berkenalan. Pertama jika ada SMS dari orang yang baru di kenal, pasti menanyakan tau darimana nomernya dan hal itu yang di Tanya si Mona, cewek yang Agus kenalkan ke diriku. Ku jawab apa adanya, bahwa aku tau nomernya dari Agus dan kujelaskan bahwa dia adalah temanku. “Tin, gue masuk dulu ya. Ada kelas nih.”, kata Agus padaku sambil bergegas meninggalkan tempat duduknya.

Setelahnya, kulihat jam di HPku, dan saatnya masuk kelas manajemen keuangan internasional. Yup, aku kuliah di jurusan manajemen. Selepas pelajaran usai, ku sempatkan diri mengisi perut yang sedang ‘bernyanyi’. Karena kampusku dekat dengan restaurant cepat saji, maka ku pergi ke restaurant tersebut. Iseng-iseng, ku SMS lagi si Mona, cewek yang tadi Agus kenalkan ke diriku. Ku ajak Mona untuk ketemu di restaurant yang aku berada sekarang, dan dia pun mau. 30 menit lewat, 45 menit dan akhirnya 1 jam, dan kulihat sesosok seperti Mona dan untuk memastikannya ku telpon dia, “Mon, loe pake baju biru ya?”, tanyaku di telpon, “Kok tau?emangnya loe tau muka gue?”, sambung si Mona, “Tau dunk, tadi si Agus nunjukin foto loe kok.”, imbuhku dan sesudah kupastikan, ku beranikan diri menghampirinya. “Mona, gue Martin yang tadi.”, “Eh loe Martin.”, katanya sambil bersalaman denganku. “Dah makan Mon?”, tanyaku basa-basi, “Belum sih.”, jawabnya singkat, “Oh, ya udah ayok makan bareng. Gue traktir deh.”, kataku, padahal sebenarnya selama menunggunya aku sudah makan, tapi buat basa-basi lagi ya akhirnya kupesan makan lagi. Dia baik, dan mudah bergaul sepertinya. Kami pun membicarakan seputar perkuliahan, karena kebetulan kami di jurusan yang sama hanya beda kampus. “Waduh Tin, gue harus balik nih.”, ucapnya padaku,”Oh ya udah kalo gitu.”, kataku kemudian.

Kemudian, hari-hari setelahnya, kucoba SMS atau pun telpon HPnya mati. “Eh, gimana sama si Mona?”, Tanya Agus padaku sambil berbisik, karena saat itu kami berada di kelas, “Gak tau Gus, HPnya mati.”, jawabku, “Loe kenal deket gak sih sama dia?”, lanjutku, “Hehehe, gak begitu Gus, gue aja kenal dia dari temen gue.”, katanya sambil tersenyum, “Ya ampun, gue kira loe kenal deket.”, kataku, “Itu yang di belakang, ini bukan tempatnya bergosip ya.”, kata sang dosen sambil menunjuk tangannya ke arah kami berdua, “Maaf pak.”, kata kami berdua. Semester demi semester telah terlewati dan tentunya semester pendek yang aku ambil pun juga demikian. Hingga akhirnya hari kelulusan pun tiba, “Gus, gak sangka ya kita udah lulus.”, ucapku bangga, “Iye, padahal kita banyak ikut semester pendek. Akhirnya lulus juga.”, jawabnya. Masa wisuda telah terlewati, tahun demi tahun juga berganti dan dunia pekerjaan siap kami hadapi.

2005
Kini Agus telah bekerja di bank swasta, dan aku bekerja di perusahaan asing. Selepas pulang kantor, aku pergi ke restaurant cepat saji mengisi perut ini. Setibanya disana, kebetulan seluruh tempat hampir penuh, hanya ada beberapa tempat duduk, setelah ku pesan makan, ku cari tempat duduk dan kebetulan ada seorang wanita duduk sendiri, dan aku langsung saja menghampirinya, “Maaf, boleh saya duduk?”, kataku pada si wanita tersebut, “Silahkan.”, jawabnya singkat sambil senyum. Setelah ku selesai makan, kusempatkan sebentar untuk mengobrol dengan wanita itu. “Kerja dimana?”, tanyaku, “Aku kerja di bank.”, jawabnya, dan kami pun mengobrol seputar dunia pekerjaan dan, “Oh ya, kita lupa nih belum kenal nama. Aku Martin.”, kataku sambil ku sodorkan tanganku, “Oh ya, aku Mona.”, katanya sambil menerima sodoran tanganku, “Mona ya? Aku dulu juga punya temen namanya Mona.”, tambahku, “Tunggu dulu, perasaan aku ingat sesuatu deh.”, katanya sambil mengingat sesuatu, “Kamu pernah punya temen namanya Agus gak?”, tambahnya, “Iya, kamu ini Mona temannya Agus ya?”, kataku pada si Mona, “Iya, ya ampun. Kok bias gak sadar ya kita, ternyata kita udah saling kenal.”, ucap Mona sambil tertawa. Setelah bertahun-tahun, akhirnya Mona yang dulu aku cari kembali ku temukan. Dia pun bercerita bahwa dia waktu itu ganti nomer HP serta ganti HP, alhasil seluruh kontak HPnya hilang. Aku pun meminta nomer HPnya yang sekarang, dan dia pun memberikannya. “Kamu berubah banget ya Tin.”, “Sama, kamu juga Mon.”, kataku kemudian. “Mon, kok bisa ya cahaya bulan ada di matamu yang indah”, kataku padanya sambil tersenyum, “Ah kamu nih bisa aja.”, katanya tersenyum balik kepadaku, dan beberapa menit kemudian, “Tin, aku balik dulu ya, mau istirahat nih.”, katanya, “Oh ya deh.”, sahutku.

Setelah pertemuan kembali dengannya, kami menjadi dekat. Kadang kami janjian makan di tempat restaurant cepat saji yang biasa kami kunjungi. Yah, memang kita tak akan pernah tau akan gimana kita, kalau di ingat kembali dimana aku pertama bertemu dengannya di tahun 2000, sungguh berbeda dengan sekarang ini dan si Mona pun juga demikian. Di tambah pula, ku tak mengenali wajahnya, karena memang dia sudah berubah, bisa di bilang semakin cantik. Untung saja Mona belum memiliki pasangan, dan aku pun demikian. Ku beranikan diri untuk PDKT denganya, karena aku telah bekerja dan memiliki penghasilan sendiri maka ku sering mengajaknya keluar untuk nonton atau hanya sekedar makan. Aku bingung ingin membelikannya apa, karena dia sendiri juga telah berpenghasilan dan tak mungkin aku membelikannya boneka. Kedekatan kami menimbulkan benih-benih yang kadang orang takut untuk terluka karenanya. Yup, cinta, sepertinya aku telah jatuh cinta kepadanya, beberapa hari ini aku terus memikirkanya. Dan akhirnya keberanikan diri, ku belikan dia setangkai mawar, dan tepatnya di sebuah taman, “Mon, ini adalah setangkai mawar merah, dan kuharap kau menaruh mawar merah ini di hatimu. Maukah kau menjadi kekasihku?”, kataku, “Oh Martin, kamu romantis banget.”, ucapnya dan dia terdiam sejenak, “Mawar ini akan kutaruh di hatiku ini, dan akan kujaga tetapi kau harus menjadi penjaga hatiku.”, katanya kemudian. Dan dia pun meneriama cintaku, dan di umurku yang kini 25 tahun, Mona yang dulu hilang kini ku temukan sebagai ratu di hatiku. Mona, ku mencintaimu, dan ku jaga hatimu selalu.

Martin,


By Gawi
Read More »»  

Apa arti selama ini?

 Dear diary,

Entah apa yang ada di pikiranku setiap malamnya, hari-hari mungkin akan terasa berat tanpanya. Hidup ini penuh lika-liku yang tiada henti. Amel adalah namaku, umurku 25 tahun, Dodik pria yang aku sayang, aku cinta, aku puja dan kuserahkan seluruh perhatianku kepadanya selama 4 tahun, hanya sia-sia belaka.
Awalnya aku hanya menanggapnya biasa saja, karena aku yakin akan suatu perubahan. Tapi apa nyatanya? Jangankan berubah, tingkahnya semakin menjadi-jadi. Awalnya saja romantic, aku di sayangnya, selepas kerja, ia selalu menjemputku, dan menungguku dengan setia. Dan karenanya, aku pun memberi perhatian sama pada yang ia lakukan kepadaku. “Jangan lupa makan ya.”, kataku mengingatkan makan padanya, “Jangan lupa solat ya.”, ku ingatkan dia untuk menemui-NYA, “Jangan terlalu capek kerja ya.”, ku ingatkan ia ketika lupa untuk istirahat karena kerjanya yang sibuk.

Waktu itu sangatlah cepat berganti, dan tak terasa 4 tahun sudah bersamanya. Jangan sangka 4 tahun yang bahagia, yang ada justru aku yang mengelus dada, berusaha untuk sangat bersabar menghadapi tingkahnya, dan selalu yakin akan perubahan dalam dirinya. Akhirnya, 4 tahun sudah kami menjalin kasih. Setelah kami putus, ia dengan mudahnya dapat penggantiku. Tapi anehnya, dia tetap menghubungiku, dengan alasan perhatian yang di berikan oleh kekasih barunya kurang.

Awalnya aku sudah enggan dengannya, terkadang pula, jika dia SMS, aku hanya mengabaikannya, dan begitu aku mengabaikan, dia berusaha menelpon ke kantorku. Mau tak mau, aku harus menerimanya, dari pada aku di marahi oleh bossku. Dia berkata panjang lebar, berusaha meminta maaf, dan meyakinkan kalo ia telah berubah.

Sebagai manusia yang memadu kasih, siapa yang tak cemburu melihat kekasihnya masih berhubungan dengan mantanya. Hingga akhirnya, aku pun di telpon oleh kekasihnya, “Dasar, wanita gak tau diri ya. Udah tau punya pacar, masih aja ke gatelan deketin.”, sentaknya di telpon, “Maaf, sorry ya. Yang ke gatelan itu bukan aku, tapi cowok kamu tuh, sampe-sampe telpon ke kantorku, apa maunya coba?”, belaku dengan nada keras juga, selama sekitar 15 menit, di telpon hanya berdebat saja aku dengan kekasihnya itu.

Sekitar seminggu setelah kekasih Dodik yang ‘sempurna’ itu menghubungiku, Dodik pergi ke kost ku. Aku pun tak bisa mengelak, akhirnya ia cerita bahwa ia putus sama kekasihnya. Ia menampar kekasihnya itu, karena ia membelaku setelah kekasihnya itu mengataiku wanita murahan. Itu yang ia ceritakan padaku, hatiku yang awalnya bagai es, luluh mendengar ceritanya itu.

Akhirnya, kami pun ‘seperti’ sedia kala, tapi belum ada kata balikan sebagai kekasih. Ia berkata bahwa ia sudah tidak pernah menghubungi mantanya itu, tapi apa nyatanya? Saat ia menjemputku, aku melihat ia dari jendela kantor, ia sedang menelpon seseorang. Kemudian setelah ia menjemputku, ia mengajak makan di sebuah restaurant fast food, dan saat ia pergi ke kamar mandi, ia lupa membawa HPnya dan langsung saja aku ambil, aku periksa panggilan keluar, dan benar saja, yang tadi ia telpon adalah mantanya itu.

Ke-esokannya, ia menyuruhku dating ke kostnya, tapi apa nyatanya? Ia tidak ada di kostnya, berjam-jam aku menantinya, hingga ibu kostnya pun menemaniku. Ku coba SMS tak ada balesan, ku coba telpon tak di angkat olehnya. Lelah ku menunggunya, dan kuputuskan untung pulang ke kostku, sesampainya di kostku, ibu kost Dodik menelpon ku, “Amel, itu si Dodik udah pulang.” Begitu katanya di telpon, dank u telponlah si Dodik untuk meminta penjelasan, tapi apa? Tetap tak di angkatnya. 

Minggu pagi, kuputuskan untuk meminta penjelasan langsung padanya, dan tanpa sepengetahuannya, aku menghampiri kostnya. Begitu aku tiba di kostnya, “Eh, Amel. Ada apa?”, katanya dengan muka kaget dan innocent, se-akan ia mengalami amnesia akan kejadian kemarin dimana aku menunggunya berjam-jam. Di dalam, aku meminta penjelasan, dan dengan gampangnya ia berkata, “Maaf, aku kemarin sama Lisa.”, Lisa adalah mantanya, “Orang tuaku lebih setuju dengannya.”, lanjutnya padaku, “Terus apa artinya aku ini?apa artinya kamu cari aku saat kita udah putus kalo nyatanya seperti ini?”, kataku marah, “Aku..aku..aku bingung harus gimana.”, katanya terbata-bata. Aku bagaikan ‘bonekanya’ yang bisa ia mainkan sesukanya, dan karena aku benar kesal olehnya, spontan aku tampar mukanya. Dan tau apa yang ia lakukan balik?bukan hanya tamparan saja, ia juga mencekikku, memukulku dan ak berusaha melarikan diri, dan akhirnya aku lepas dari cengkramannya dan aku langsung saja pergi begitu saja dan kutinggalkan kostnya.

Setelah kejadian dimana ia melakukan hal yang mungkin tidak seharusnya di lakukan bagi seorang pria sejati, dia menelponku. Ku angkat, dan dengan gampangnya, “Habis kamu yang tampar aku duluan.”, katanya, padahal siapa yang tidak sakit hatinya di permainkan seperti itu. Tapi mungkin aku juga salah, terlalu terfokus pada 1 pria yang telah menyakitiku. Selain itu, bukannya dia menyesel, dia justru menyalah-nyalahkan ku, selalu saja aku di pojokkan olehnya. Lelah, akhirnya saat ia SMS, aku biarkan saja, saat ia telpon, aku biarkan. Dan SMSnya pun tak penting, pernah saat itu ia hanya sms, “Laper”, so what?pikirku, emangnya aku ibunya. “Aku butuh bantuan”, isi SMSnya yang lain, tapi aku hiraukan.

Terus saja seperti itu, menghubungiku. Lelah, akhirnya aku ganti nomer telpon, aku berusaha menghilangkan jejakku. Kini aku sadar, 4 tahun tak ada arti, yang ada hanya kepedihan dan harga diriku sebagai seorang yang terluka oleh tingkahnya itu. Kalo memang ia lelaki sejati, seharunya tingkahnya tidak seperti itu, memukul seorang perempuan adalah tindakan seorang lelaki lemah. 

Doaku untuknya,
Tuhan, sadarkanlah dia. Berikan pencerahan padanya, buka mata hatinya yang beku itu, buka mata hatinya agar ia dapat melihat pengorbanan seseorang padanya. Rubahlah ia menjadi yang lebih baik, Tuhan, jagalah dia, biar bagaimanapun, ia pernah berada di hatiku.”

Aku ucapkan terimakasih kepadanya, karena telah memberikan pelajaran berharga tentang apa itu cinta. Walaupun aku sudah menjadi korban permainannya dan tingkahnya itu, aku akan terus mengingatnya selalu. Dan untuk kalian yang lain, aku tau mau itu terjadi pada kalian. Cukup aku yang menjadi korban. Oleh karenanya, carilah kekasih yang cinta dan sayang padamu secara tulus. Jangan lihat dari parasnya, dan jangan lihat dengan mata saja, tapi lihatlah dengan hati. Jangan tertipu oleh seseorang yang hanya pada awal-awalnya saja baik, tapi lama-lama seperti apa yang Dodik lakukan padaku. Hidup kita ini sangatlah berharga, lebih baik buat diri kita menjadi seseorang terlebih dahulu, baru pikirkanlah tentang cinta dan jangan lah terfokus pada 1 orang. Sayangin hidupmu terlebih dahulu, baru sayangi orang lain.

Amel,
Tuhan berada di sekitar kita!!!

By GaWi
Read More »»  

Sabtu, 21 Mei 2011

Ia


Tubuh yang dulu kuat, kini harus melawan ke rentaan tubuhnya sendiri. Ia di makan oleh waktu, rambut yang dulu hitam, kini harus berubah menjadi putih. Ia, rela mengorbankan dirinya hanya untuk membahagiakan orang yang ia cinta. “Nasinya sudah matang, ayo makan.”, ucapnya, ia selalu mengingatkan kita apa pun itu, “Ayo bangun, waktunya sekolah.”, tuturnya. Ia yang paling sabar di antara kita, “Aku mau mainan itu.”, bentak si kecil padanya, kita terkadang tak menghargainya, “Gak usah ceramah, aku udah gede, tahu yang buruk.”, bentak si remaja padanya, ia hanya mengelus dada.

Ia akan berjuang bagaimanapun caranya, cincin nikah satu-satunya, ia jual hanya untuk rupiah. Jiwanya telah hilang sebagian, Ia harus berperan ‘ganda’. Sedih rasanya melihat jiwanya yang hilang, tapi ini hidup, tak kekal. Tubuh yang dulu berisi daging-daging, kini habis di makan pikiran. Tubuh yang dulu sehat, kini harus sakit-sakitan. Ia tak pernah mengeluh, Ia sosok yang kuat, yang bisa menerima penderitaan hidup. Ia tersenyum seakan tak ada masalah, padahal itu adalah ‘senyum kepalsuan’, hatinya merana. Ia melihat si muda yang penuh dengan energi, itulah ia di saat muda. “Kamu harus berlaku baik jika ingin orang lain baik kepadamu.”, ia berujar, itulah dia, selalu memberi nasihat. “Aku putus sama dia.”, ucap si gadis dengan tetesan air mata kepadanya, “Sudah, jangan menangis. Masih banyak cowok di dunia ini sayang.”, katanya yang berusaha menghibur sang gadis.

“Dia pinjam uangku tapi entah sekarang pergi kemana.”, kata si cowok dengan nada kesal, “Makanya, Jangan mudah percaya pada seseorang,  jadikan ini pelajaran buat kamu.”, ucapnya lembut pada si cowok. Itu lah Ia, sungguh hebat, padahal ia sendiri juga memiliki masalah. Ia, selalu bangga akan kita, tapi kita?kita terkadang lupa akan ia. Ia tak meminta apa-apa dari kita, ia hanya ingin kita bahagia, makmur, dan sejahtera. Ia memberi hadiah-hadiah di saat kita ulang tahun, ia selalu ingat akan ulang tahun kita. Saat kita belum bisa bicara dan berjalan, ia mengajari kita bagaimana caranya.

Berat rasanya menjadi Ia. Kasih sayangnya dan cintanya tak ternilai, sedangkan kita? Ia meminjamkan tubuhnya 9 bulan hanya untuk kita. Katakanlah “I love you” padanya sebelum kita tak dapat mengatakannya, karena Ia menanti malaikat sang pencabut nyawa yang datang tanpa di duga.

Ia,
by GaWi
Read More »»  

Gwe-Store