Selasa, 24 Mei 2011

Pina Colada

INSTRUCTIONS
Blend all the ingredients in a blender until smooth. Pour over ice into a highball glass.

INGREDIENTS
* 2 parts Golden rum
* 1 teaspoon Cream of coconut
* dash of Cream
* 3 parts Pineapple juice
* 1 Orange slice
Read More »»  

Baby cocktail

INSTRUCTIONS
Shake with ice and pour into a highball glass

INGREDIENTS
* 1 part Pineapple juice
* 1 part Cream
Read More »»  

Jungle juice

INSTRUCTIONS
Place all ingredients in the blender jar - cover and whiz on medium speed until well blended. Pour in one tall, 2 medium or 3 small glasses and drink up.


INGREDIENTS
* 1 Banana
* 2 Orange juice
* dash Ginger
Read More »»  

Mojito

INSTRUCTIONS
Mash the mint and sugar together. Add the (dark or light) rum and lime juice and pour over the ice.
Top up with soda water. Use a highball glass.


INGREDIENTS
* 2 parts White rum
* 1 part Lime juice
* top up Soda water
* 10 Mint sprigs
* 1 part Ice cubes
* 1 Lime slice
* 1 teaspoon Sugar
Read More »»  

Senin, 23 Mei 2011

Tanpa judul

Dear diary,


Ini kisahku dimana saat itu aku duduk di bangku kuliah dan umurku saat itu 20 tahun. Martin itu lah nama yang di berikan orang tuaku padaku.

2000
“Maaf pak, saya telat masuk.”, kataku kepada sang dosen, “Maaf, maaf, saya tahu kamu telat masuk. Tidak ada yang perlu di maafkan, sekarang kamu keluar pintu dan pulang.”, kata sang dosen dan dengan tegasnya menyuruhku untuk tak mengikuti kelas. Yah, terpaksa aku ke kantin kampus, daripada kesel mikirin hal tadi aku putusin makan mie ayam. Ku duduk di pojok, “Gak ada kelas loe?”, ucap seorang cowok sambil memukul pundakku, “Eh loe Gus.”, kataku sambil menoleh padanya, “Gue telat, terus di usir deh gak boleh ikut kelas.”, imbuhku, dan Agus pun tertawa. Agus adalah temanku di kampus. “Eh, loe jomblo kan?”, “Iya, mang napa Gus?”, “Nih, gue kenalin temen gue.”, katanya sambil nunjukin foto teman ceweknya. “Wah, boleh juga tuh Gus”, ucapku padanya, “Minta nomer HPnya dunk.”, pintaku dan dia pun memberikan nomer HP temannya itu. Ku Tanya kenapa dia mengenalkan cewek itu kepadaku, dia bilang bahwa dia kasihan yang lihat aku menjomblo. Yup, aku memang terkadang selalu mengeluh karena aku yang jomblo, sebagai lelaki normal, aku juga ingin memiliki yang namanya pacar. Entah kapan tepatnya aku lupa, ku berkata pada Agus, “Gus, gue pengen deh pacaran. Napa gak ada yang mau sama gue ya?”, “Pacaran?pacaran aja sama gue, gue mau kok.”, ucapnya sambil tertawa. Begitulah tingkah si Agus. Kembali lagi ke teman cewek si Agus, setelah dia memberikan nomer HPnya, ku langsung SMS kepadanya dan alhasil dia pun membalas SMS, akhirnya kami pun berkenalan. Pertama jika ada SMS dari orang yang baru di kenal, pasti menanyakan tau darimana nomernya dan hal itu yang di Tanya si Mona, cewek yang Agus kenalkan ke diriku. Ku jawab apa adanya, bahwa aku tau nomernya dari Agus dan kujelaskan bahwa dia adalah temanku. “Tin, gue masuk dulu ya. Ada kelas nih.”, kata Agus padaku sambil bergegas meninggalkan tempat duduknya.

Setelahnya, kulihat jam di HPku, dan saatnya masuk kelas manajemen keuangan internasional. Yup, aku kuliah di jurusan manajemen. Selepas pelajaran usai, ku sempatkan diri mengisi perut yang sedang ‘bernyanyi’. Karena kampusku dekat dengan restaurant cepat saji, maka ku pergi ke restaurant tersebut. Iseng-iseng, ku SMS lagi si Mona, cewek yang tadi Agus kenalkan ke diriku. Ku ajak Mona untuk ketemu di restaurant yang aku berada sekarang, dan dia pun mau. 30 menit lewat, 45 menit dan akhirnya 1 jam, dan kulihat sesosok seperti Mona dan untuk memastikannya ku telpon dia, “Mon, loe pake baju biru ya?”, tanyaku di telpon, “Kok tau?emangnya loe tau muka gue?”, sambung si Mona, “Tau dunk, tadi si Agus nunjukin foto loe kok.”, imbuhku dan sesudah kupastikan, ku beranikan diri menghampirinya. “Mona, gue Martin yang tadi.”, “Eh loe Martin.”, katanya sambil bersalaman denganku. “Dah makan Mon?”, tanyaku basa-basi, “Belum sih.”, jawabnya singkat, “Oh, ya udah ayok makan bareng. Gue traktir deh.”, kataku, padahal sebenarnya selama menunggunya aku sudah makan, tapi buat basa-basi lagi ya akhirnya kupesan makan lagi. Dia baik, dan mudah bergaul sepertinya. Kami pun membicarakan seputar perkuliahan, karena kebetulan kami di jurusan yang sama hanya beda kampus. “Waduh Tin, gue harus balik nih.”, ucapnya padaku,”Oh ya udah kalo gitu.”, kataku kemudian.

Kemudian, hari-hari setelahnya, kucoba SMS atau pun telpon HPnya mati. “Eh, gimana sama si Mona?”, Tanya Agus padaku sambil berbisik, karena saat itu kami berada di kelas, “Gak tau Gus, HPnya mati.”, jawabku, “Loe kenal deket gak sih sama dia?”, lanjutku, “Hehehe, gak begitu Gus, gue aja kenal dia dari temen gue.”, katanya sambil tersenyum, “Ya ampun, gue kira loe kenal deket.”, kataku, “Itu yang di belakang, ini bukan tempatnya bergosip ya.”, kata sang dosen sambil menunjuk tangannya ke arah kami berdua, “Maaf pak.”, kata kami berdua. Semester demi semester telah terlewati dan tentunya semester pendek yang aku ambil pun juga demikian. Hingga akhirnya hari kelulusan pun tiba, “Gus, gak sangka ya kita udah lulus.”, ucapku bangga, “Iye, padahal kita banyak ikut semester pendek. Akhirnya lulus juga.”, jawabnya. Masa wisuda telah terlewati, tahun demi tahun juga berganti dan dunia pekerjaan siap kami hadapi.

2005
Kini Agus telah bekerja di bank swasta, dan aku bekerja di perusahaan asing. Selepas pulang kantor, aku pergi ke restaurant cepat saji mengisi perut ini. Setibanya disana, kebetulan seluruh tempat hampir penuh, hanya ada beberapa tempat duduk, setelah ku pesan makan, ku cari tempat duduk dan kebetulan ada seorang wanita duduk sendiri, dan aku langsung saja menghampirinya, “Maaf, boleh saya duduk?”, kataku pada si wanita tersebut, “Silahkan.”, jawabnya singkat sambil senyum. Setelah ku selesai makan, kusempatkan sebentar untuk mengobrol dengan wanita itu. “Kerja dimana?”, tanyaku, “Aku kerja di bank.”, jawabnya, dan kami pun mengobrol seputar dunia pekerjaan dan, “Oh ya, kita lupa nih belum kenal nama. Aku Martin.”, kataku sambil ku sodorkan tanganku, “Oh ya, aku Mona.”, katanya sambil menerima sodoran tanganku, “Mona ya? Aku dulu juga punya temen namanya Mona.”, tambahku, “Tunggu dulu, perasaan aku ingat sesuatu deh.”, katanya sambil mengingat sesuatu, “Kamu pernah punya temen namanya Agus gak?”, tambahnya, “Iya, kamu ini Mona temannya Agus ya?”, kataku pada si Mona, “Iya, ya ampun. Kok bias gak sadar ya kita, ternyata kita udah saling kenal.”, ucap Mona sambil tertawa. Setelah bertahun-tahun, akhirnya Mona yang dulu aku cari kembali ku temukan. Dia pun bercerita bahwa dia waktu itu ganti nomer HP serta ganti HP, alhasil seluruh kontak HPnya hilang. Aku pun meminta nomer HPnya yang sekarang, dan dia pun memberikannya. “Kamu berubah banget ya Tin.”, “Sama, kamu juga Mon.”, kataku kemudian. “Mon, kok bisa ya cahaya bulan ada di matamu yang indah”, kataku padanya sambil tersenyum, “Ah kamu nih bisa aja.”, katanya tersenyum balik kepadaku, dan beberapa menit kemudian, “Tin, aku balik dulu ya, mau istirahat nih.”, katanya, “Oh ya deh.”, sahutku.

Setelah pertemuan kembali dengannya, kami menjadi dekat. Kadang kami janjian makan di tempat restaurant cepat saji yang biasa kami kunjungi. Yah, memang kita tak akan pernah tau akan gimana kita, kalau di ingat kembali dimana aku pertama bertemu dengannya di tahun 2000, sungguh berbeda dengan sekarang ini dan si Mona pun juga demikian. Di tambah pula, ku tak mengenali wajahnya, karena memang dia sudah berubah, bisa di bilang semakin cantik. Untung saja Mona belum memiliki pasangan, dan aku pun demikian. Ku beranikan diri untuk PDKT denganya, karena aku telah bekerja dan memiliki penghasilan sendiri maka ku sering mengajaknya keluar untuk nonton atau hanya sekedar makan. Aku bingung ingin membelikannya apa, karena dia sendiri juga telah berpenghasilan dan tak mungkin aku membelikannya boneka. Kedekatan kami menimbulkan benih-benih yang kadang orang takut untuk terluka karenanya. Yup, cinta, sepertinya aku telah jatuh cinta kepadanya, beberapa hari ini aku terus memikirkanya. Dan akhirnya keberanikan diri, ku belikan dia setangkai mawar, dan tepatnya di sebuah taman, “Mon, ini adalah setangkai mawar merah, dan kuharap kau menaruh mawar merah ini di hatimu. Maukah kau menjadi kekasihku?”, kataku, “Oh Martin, kamu romantis banget.”, ucapnya dan dia terdiam sejenak, “Mawar ini akan kutaruh di hatiku ini, dan akan kujaga tetapi kau harus menjadi penjaga hatiku.”, katanya kemudian. Dan dia pun meneriama cintaku, dan di umurku yang kini 25 tahun, Mona yang dulu hilang kini ku temukan sebagai ratu di hatiku. Mona, ku mencintaimu, dan ku jaga hatimu selalu.

Martin,


By Gawi
Read More »»  

Apa arti selama ini?

 Dear diary,

Entah apa yang ada di pikiranku setiap malamnya, hari-hari mungkin akan terasa berat tanpanya. Hidup ini penuh lika-liku yang tiada henti. Amel adalah namaku, umurku 25 tahun, Dodik pria yang aku sayang, aku cinta, aku puja dan kuserahkan seluruh perhatianku kepadanya selama 4 tahun, hanya sia-sia belaka.
Awalnya aku hanya menanggapnya biasa saja, karena aku yakin akan suatu perubahan. Tapi apa nyatanya? Jangankan berubah, tingkahnya semakin menjadi-jadi. Awalnya saja romantic, aku di sayangnya, selepas kerja, ia selalu menjemputku, dan menungguku dengan setia. Dan karenanya, aku pun memberi perhatian sama pada yang ia lakukan kepadaku. “Jangan lupa makan ya.”, kataku mengingatkan makan padanya, “Jangan lupa solat ya.”, ku ingatkan dia untuk menemui-NYA, “Jangan terlalu capek kerja ya.”, ku ingatkan ia ketika lupa untuk istirahat karena kerjanya yang sibuk.

Waktu itu sangatlah cepat berganti, dan tak terasa 4 tahun sudah bersamanya. Jangan sangka 4 tahun yang bahagia, yang ada justru aku yang mengelus dada, berusaha untuk sangat bersabar menghadapi tingkahnya, dan selalu yakin akan perubahan dalam dirinya. Akhirnya, 4 tahun sudah kami menjalin kasih. Setelah kami putus, ia dengan mudahnya dapat penggantiku. Tapi anehnya, dia tetap menghubungiku, dengan alasan perhatian yang di berikan oleh kekasih barunya kurang.

Awalnya aku sudah enggan dengannya, terkadang pula, jika dia SMS, aku hanya mengabaikannya, dan begitu aku mengabaikan, dia berusaha menelpon ke kantorku. Mau tak mau, aku harus menerimanya, dari pada aku di marahi oleh bossku. Dia berkata panjang lebar, berusaha meminta maaf, dan meyakinkan kalo ia telah berubah.

Sebagai manusia yang memadu kasih, siapa yang tak cemburu melihat kekasihnya masih berhubungan dengan mantanya. Hingga akhirnya, aku pun di telpon oleh kekasihnya, “Dasar, wanita gak tau diri ya. Udah tau punya pacar, masih aja ke gatelan deketin.”, sentaknya di telpon, “Maaf, sorry ya. Yang ke gatelan itu bukan aku, tapi cowok kamu tuh, sampe-sampe telpon ke kantorku, apa maunya coba?”, belaku dengan nada keras juga, selama sekitar 15 menit, di telpon hanya berdebat saja aku dengan kekasihnya itu.

Sekitar seminggu setelah kekasih Dodik yang ‘sempurna’ itu menghubungiku, Dodik pergi ke kost ku. Aku pun tak bisa mengelak, akhirnya ia cerita bahwa ia putus sama kekasihnya. Ia menampar kekasihnya itu, karena ia membelaku setelah kekasihnya itu mengataiku wanita murahan. Itu yang ia ceritakan padaku, hatiku yang awalnya bagai es, luluh mendengar ceritanya itu.

Akhirnya, kami pun ‘seperti’ sedia kala, tapi belum ada kata balikan sebagai kekasih. Ia berkata bahwa ia sudah tidak pernah menghubungi mantanya itu, tapi apa nyatanya? Saat ia menjemputku, aku melihat ia dari jendela kantor, ia sedang menelpon seseorang. Kemudian setelah ia menjemputku, ia mengajak makan di sebuah restaurant fast food, dan saat ia pergi ke kamar mandi, ia lupa membawa HPnya dan langsung saja aku ambil, aku periksa panggilan keluar, dan benar saja, yang tadi ia telpon adalah mantanya itu.

Ke-esokannya, ia menyuruhku dating ke kostnya, tapi apa nyatanya? Ia tidak ada di kostnya, berjam-jam aku menantinya, hingga ibu kostnya pun menemaniku. Ku coba SMS tak ada balesan, ku coba telpon tak di angkat olehnya. Lelah ku menunggunya, dan kuputuskan untung pulang ke kostku, sesampainya di kostku, ibu kost Dodik menelpon ku, “Amel, itu si Dodik udah pulang.” Begitu katanya di telpon, dank u telponlah si Dodik untuk meminta penjelasan, tapi apa? Tetap tak di angkatnya. 

Minggu pagi, kuputuskan untuk meminta penjelasan langsung padanya, dan tanpa sepengetahuannya, aku menghampiri kostnya. Begitu aku tiba di kostnya, “Eh, Amel. Ada apa?”, katanya dengan muka kaget dan innocent, se-akan ia mengalami amnesia akan kejadian kemarin dimana aku menunggunya berjam-jam. Di dalam, aku meminta penjelasan, dan dengan gampangnya ia berkata, “Maaf, aku kemarin sama Lisa.”, Lisa adalah mantanya, “Orang tuaku lebih setuju dengannya.”, lanjutnya padaku, “Terus apa artinya aku ini?apa artinya kamu cari aku saat kita udah putus kalo nyatanya seperti ini?”, kataku marah, “Aku..aku..aku bingung harus gimana.”, katanya terbata-bata. Aku bagaikan ‘bonekanya’ yang bisa ia mainkan sesukanya, dan karena aku benar kesal olehnya, spontan aku tampar mukanya. Dan tau apa yang ia lakukan balik?bukan hanya tamparan saja, ia juga mencekikku, memukulku dan ak berusaha melarikan diri, dan akhirnya aku lepas dari cengkramannya dan aku langsung saja pergi begitu saja dan kutinggalkan kostnya.

Setelah kejadian dimana ia melakukan hal yang mungkin tidak seharusnya di lakukan bagi seorang pria sejati, dia menelponku. Ku angkat, dan dengan gampangnya, “Habis kamu yang tampar aku duluan.”, katanya, padahal siapa yang tidak sakit hatinya di permainkan seperti itu. Tapi mungkin aku juga salah, terlalu terfokus pada 1 pria yang telah menyakitiku. Selain itu, bukannya dia menyesel, dia justru menyalah-nyalahkan ku, selalu saja aku di pojokkan olehnya. Lelah, akhirnya saat ia SMS, aku biarkan saja, saat ia telpon, aku biarkan. Dan SMSnya pun tak penting, pernah saat itu ia hanya sms, “Laper”, so what?pikirku, emangnya aku ibunya. “Aku butuh bantuan”, isi SMSnya yang lain, tapi aku hiraukan.

Terus saja seperti itu, menghubungiku. Lelah, akhirnya aku ganti nomer telpon, aku berusaha menghilangkan jejakku. Kini aku sadar, 4 tahun tak ada arti, yang ada hanya kepedihan dan harga diriku sebagai seorang yang terluka oleh tingkahnya itu. Kalo memang ia lelaki sejati, seharunya tingkahnya tidak seperti itu, memukul seorang perempuan adalah tindakan seorang lelaki lemah. 

Doaku untuknya,
“Tuhan, sadarkanlah dia. Berikan pencerahan padanya, buka mata hatinya yang beku itu, buka mata hatinya agar ia dapat melihat pengorbanan seseorang padanya. Rubahlah ia menjadi yang lebih baik, Tuhan, jagalah dia, biar bagaimanapun, ia pernah berada di hatiku.”

Aku ucapkan terimakasih kepadanya, karena telah memberikan pelajaran berharga tentang apa itu cinta. Walaupun aku sudah menjadi korban permainannya dan tingkahnya itu, aku akan terus mengingatnya selalu. Dan untuk kalian yang lain, aku tau mau itu terjadi pada kalian. Cukup aku yang menjadi korban. Oleh karenanya, carilah kekasih yang cinta dan sayang padamu secara tulus. Jangan lihat dari parasnya, dan jangan lihat dengan mata saja, tapi lihatlah dengan hati. Jangan tertipu oleh seseorang yang hanya pada awal-awalnya saja baik, tapi lama-lama seperti apa yang Dodik lakukan padaku. Hidup kita ini sangatlah berharga, lebih baik buat diri kita menjadi seseorang terlebih dahulu, baru pikirkanlah tentang cinta dan jangan lah terfokus pada 1 orang. Sayangin hidupmu terlebih dahulu, baru sayangi orang lain.

Amel,
Tuhan berada di sekitar kita!!!

By GaWi
Read More »»  

Minggu, 22 Mei 2011

This insecurity....

This insecurity, like a dynamite
tik..tok..tik..tok..
dynamite in your own body
dynamite which kills you

This insecurity, like a dynamite
your madness  blows you away
blow from your body
your imagination taking you away

This insecurity, like a dynamite
memory from the past came over you
your past took control of you
you see your own mind

This insecurity, like a dynamite
your fears, your sins, meet each other
time goes by, wait and see
soon the dynamite will explode
and your insecurity leaves forever in your body.

by Gawi - 22.05.11/17.30
Read More »»  

Satu

Satu, ia dulu satu
tak tahu apa yang di carinya,
tak tahu bagaimana menemukannya,
cahayanya telah berlalu

Satu, ia dulu satu,
menatap kesunyian di malam dingin,
menatap kehampaan di dalam dirinya,
galau yang ia rasakan saat itu,

Satu, ia dulu satu
waktu seolah memutar balik,
waktu seolah membunuhnya,
dewi fortuna menghilang kala itu

Satu, ia dulu satu
mencari bagian yang terpisah,
mencari bagian yang hilang
terus mencari hingga menemukan bagian yang hilang itu.

16:56 - by Gawi 22.05.11
Read More »»  

Zzzz..kerrr



Tidur tuh paling enak deh, cara gratis untuk memulihkan tenaga. Kita paling gak harus tidur 8 jam sehari, beda sama beruang yang harus berhibernasi. Coba kalo kita berhibernasi, mungkin kita bakal panjang umur kali ya. Giliran musim ujan dateng, kita tidur aja, tapi giliran musim duren dateng, kita langsung terbangun terus buru-buru beli duren. Untung aja beruang gak suka duren, wah, kacau kalo beruang suka duren. Persediaan duren bakal langka dan manusia terancam punah (hubungannya?).

Berdasarkan orang yang mempunyai umur di atas 100 tahun, ia tidur 2 hari berturut-turut. Jelas aja umurnya panjang, tapi gimana jadinya kalo ia tidur gak bangun-bangun lagi? Bukannya dia mati ya? Apa dia sedang mengalami proses hibernasi?.

Tidur tuh banyak manfaatnya, selain memulihkan tenaga, tidur juga bisa untuk hilangin stress. Karena dengan tidur, otot-otot bakal kendur, tapi kalo di piker sama juga bohong. Namanya orang stress, tidur, bangunnya pasti stress lagi, mikirin sesuatu yang ia pikirin. Mungkin pikirin gimana cara bayar utang, harus menjual bagian dirinya yang mana lagi agar utangnya bisa di bayar.

Anihau, kalo tidur kita gak terpelas dari namanya mimpi. Kalo sebagai cowok normal, mimpi basah mah hal biasa, tapi kalo basahnya sampai 1 kasur, itu namanya ngompol. Untung aja cewek gak bisa mimpi basah, karena sudah di gantikan tamu yang setiap bulannya dateng.

Kembali ke dunia nyata, tidur di transportasi umum itu hal yang lumrah. Tapi gimana kalo kita tidur di tansportasi umum dan daerah sekitar belum begitu kita tau. Nyasar, serem, takut, mungkin itu persaan yang ada. Nih cerita ketika aku di Sydney, masih tinggal di homestay di daerah Allawah. Di Sydney, orang juga mengenal Tempe, tapi nih Tempenya gede banget, ada lampu-lampunya, ada rumah-rumahnya. Yup, kalo di Sydney, Tempe itu nama daerah, kita patut berbangga dunk, secara tidak langsung makanan khas Indonesia di prosomiin secara gratis. Untung aja gak ada daerah yang namanya Tahu sama Enak. Giliran di kereta di kasih tau pemberentian berikutnya, orangnya bakal ngomong, ‘The next station, TEMPE, TAHU, ENAK.’
Kembali ke realita, berangkat dari Allawah pagi subuh, bangun tidur, mata belekan dan gak mandi, langsung berangkat kejar kereta. Perjalanan lumayan jauh, sekitar 1,5 jam ke kampus, perlu berpindah-pindah stasiun. Pulang dari kampus sore, jam 16.30, udah gitu harus ‘olahraga’ kejar kereta. Karena jarak kereta aku keluar ke kereta berikutnya cuman 5 menit, sedangkan kalo harus nunggu kereta berikutnya, harus nunggu 30 menit lagi. Gile, ampe rumah jam berapa? Makan malem aja belom.

Lelah banget saat tuh, dari Epping (Untung aja namanya bukan Emping), harus ganti kereta di Central, dan di Centralnya sendiri, harus ganti kereta lagi ke jurusan Hurstville. Hal yang paling menakutkan kalo kita di negeri orang adalah saat kita kesasar malem-melem.

Karena merasa udah hafal daerahnya dan nama stasiunnya, akhirnya tidurlah di kereta. ‘The next station is Redfern’, kata orangnya, oh, masih lama pikirku. Dan lanjutin tidur, ‘The next station is….’ Masih lama lagi, beberapa stasiun udah terlewati. Karena bener-bener lelah, akhirnya ketiduran dan gak denger sama sekali di satsiun mana aku sekerang. Terus tiba-tiba bangun ketika orangnya ngomong, ‘This train is terminate in here.’, kaget, soalnya gak biasanya denger kata-kata kayak gitu, terus pas liat ke jendela, ‘HURSTVILLE’. 

Bingung, ternyata Allawahnya nih kelewatan. Dan untungnya gak ada petugas yang meriksa karcis, coba kalo ada, bakal kena denda berates-ratus. Soalnya tiket keretanya cuman sampe Allawah. Bingung,soalnya baru pertama kali ke Hurstville, gara-gara tidur di kereta. Kemudian, aku putusin telpon si om yang punya homestay, cerita, aku kesasar di Hurstville, bingung gimana baliknya. Akhirnya, di suruh lah naik kereta yang berikutnya.


By Gawi
Read More »»  

Sabtu, 21 Mei 2011

Harapan itu...

Harapan, kita sering mendengar kata itu. Harapan, harapan dan harapan, tapi apa sebenarnya harapan itu?. Harapan adalah suatu bentuk asa dari diri kita/kepercayaan dalam diri kita tentang sesuatu. Gimana bentuk harapan itu?, harapan itu abstrak, itulah harapan.

Tau kah kita tentang legenda kota pandora?, mengubah suatu keburukan menjadi kebaikan. Hrapan oh harapan, dalam hidup kita sering mengharapkan sesuatu, tapi gimana cara kita mewujudkan itu?, duduk diam menanti durian runtuh?. Sia-sia belaka, harapan harus di sertai dengan suatu usaha kita untuk mewujudkan harapan itu terjadi.

Harapan dapat menjadi motivasi dalam hidup kita, karenanya manusia membutuhkan harapan. Tapi yang selalu di ingat adalah, mampukah kita menggapai harapan itu?, sanggupkah kita mewujudkannya?, itu semua balik ke kita lagi, gimana, bagaimana, dan usaha apa yang sudah kita buat.

Yah tapi gimanapun, harapan harus di sertai dengan doa pula. Karena bagaimanapun, doa itu penting, doa dapat menenangkan hati yang gundah atau apa lah. Harapan, capailah harapanmu, harapan itu indah, dan gunakan harapan kita untuk mewujudkan mimpi kita. Jangan berhenti berharap selama dunia ini masih berputar.

15.23 - 21.05.11 by GaWi
Read More »»  

Gwe-Store