Sabtu, 27 Juni 2015

Efek Domino Pertelevisian

Kalau lihat acara-acara TV sekarang ini, saya kadang merasa heran dengan banyaknya acara-acara TV yang tidak jelas. Tidak jelas disini adalah, entah apa acara tersebut baik atau buruk, mendidik atau tidak, yang penting rating acara tinggi dan menghasilkan profit pada TV tersebut.

Isinya cuma joget-joget, sinetron yang jalan ceritanya tidak jelas, atau banyolan dari sang presenter ke presenter lain guna memperpanjang-panjang durasi acara.Isinya gitu-gitu aja!.

Para kapitalist bertebaran di negara yang kaya akan sumber daya, namun warganya menjadi 'pengemis' di negaranya tersendiri. Miris, lihat keadaan sekarang ini. Masuknya gelombang globalisasi juga merupakan salah satu hal seperti ini dapat menyebar secara pesat.

Terkadang sepintas terbayang, negara-negara komunis seperti China, Korea Utara dan lainnya. Walaupun adanya gelombang globalisasi, mereka tetap tak terpengaruh dan memegang teguh budaya mereka. Lain dengan Indonesia, jika saya berpendapat, acara-acara TV di Indonesia telah kehilangan identitasnya. Amerikanisasi dalam program acara TV merupakan salah satu alasan kita kehilangan identitas. Acara seperti Si Doel, Bajaj Bajuri merupakan salah satu acara TV yang kenyataannya merupakan identitas masyarakat Indonesia.

Menggambarkan kenyataan yang memang terjadi dalam keseharian, banyak inti yang kita dapat dari acara seperti ini. Jika di analisa, acara seperti ini mengajarkan kesederhanaan, tutur sapa antar tetangga, gotong royong dan banyak lagi.

Media Televisi merupakan media yang sangat mudah untuk penybaran/pembentukan moral masyarakat singkat kata adalah, TV sebagai panutan dalam masyarakat. Jika acara-acara terus menerus di bombardir dengan acara yang joget-joget atau tidak mendidik, sama halnya secara perlahan masyarakat Indonesia di buat bodoh.

Namun tak dapat di pungkiri juga bahwa acara-acara dari Amerika menjadi patokan dalam menghasilkan acara-acara yang serupa. Karena acara-acara Amerika di anggap lebih menghibur, lebih aktraktif, lebih modern. Tapi, akibatnya seperti yang kita lihat sekarang ini, nasib acara TV di Indonesia yang berdampak kepada masyarakat sendiri. Efek domino, begitu kartu jatuh, kartu lain ikut jatuh maksudnya adalah begitu ada acara dari negara lain yang boming atau naik daun, di buatlah dengan konsep yang serupa dan sedikit di rubah dan voila! hasil di dapat.

Mungkin para produser tidak PD atau mungkin hanya mementingkan profit semata, business is about money. Tapi bagaimana ceritanya jika kita hanya meniru-niru dan mementingkan profit semata dapat memajukan kreatifitas acara-acara TV di Indonesia? bagaimana kita dapat memberikan sesuatu yang berguna kepada masyarakat?.

They don't care about us, they just care about money, that's business. Tapi apa jadinya jika rating acara TV menurun?walaupun mereka meniru acara dari negara lain yang sangat boming?. Secara tidak langsung pemasukan mereka juga berkurang, rating turun, pemasangan iklan menurun. Dan jika rating terus turun, pemeasangan iklan sangat minim dan akhirnya acara tersebut tinggal nama. Singkat kata, acara-acara TV dan penonton saling berkaitan, dengan banyaknya penonton, rating acara pun naik dan pemasangan iklan pun naik.

Alangkah bijak jika para produser mengambil langkah yang bijak pula, rating memang perlu, profit juga perlu, tapi acara-acara TV tak dapat hidup dengan adanya penonton. Akan lebih bagus dan juga akan lenih baik guna memajukan acara pertelevisian di Indonesia jika produser berani mengambil langkah membuat acara yang mendidik dan menghasilkan profit yang banyak, bukan hanya sekedar domino efek. Tunjukan pada dunia bahwa acara-acara TV di Indonesia tidak kalah hebat dengan acara-acara TV di negara lain.

by Ganis Wicaksono, 27.06.2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Gwe-Store